Jumat, 17 Mei 2013

Kisah Akong & Ama (Love Story)



Seorang kakek menyuapi istrinya (sang nenek) yang sedang sakit. Terlihat sangat menyentuh dan mungkin inilah salah satu saat paling romantis dalam hidup sepasang manusia.
Apalah arti kata "I love you" (aku mencintaimu) bila hanya sebatas di mulut tanpa tindakan nyata (saling menjaga, mengasihi, dan berjanji setia untuk seumur hidup hanya dengan seorang pria/wanita sebagai pasangan)?
Si kakek ini, seumur hidupnya tidak pernah mengucapkan "saya cinta kamu." Ketika ia melamar calon istrinya (si nenek), hanya tiga kata yang diucapkan: "Percayalah kepada saya."
Ketika si istri melahirkan anak perempuan pertama, laki-laki itu mengatakan: " Maaf ya, sudah menyusahkan kamu."
Ketika anak perempuannya menikah, si istri merasa kehilangan dan si suami ini hanya merangkulnya sambil mengatakan: "Masih ada saya."
Ketika si nenek itu sedang sakit parah, ia mengatakan kepadanya: "Saya akan selalu ada di sampingmu."
Ketika si nenek sakitnya makin parah dan akan meninggal, si kakek hanya mengatakan kepada istrinya: "Kamu tunggu saya ya."
Seumur hidup, ia tidak pernah sekalipun mengucapkan "saya cinta kamu", tetapi "CINTA"nya tidak pernah meninggalkan dia. Cintanya diwujudkan dalam hidup keseharian mereka. Seumur hidup, tindakan dan perbuatannya selalu penuh dengan CINTA.
Walaupun sulit menemukan pasangan seperti cerita di atas ini, tapi pasti ada pasangan-pasangan yang demikian kuat rasa cintanya di dunia ini. Semoga demikian pula untuk semua pasangan yang sudah memutuskan untuk menikah.

Jadilah Akong & Ama paling romantis, versi Anda masing-masing :)
Luar Biasa!!

[dari berbagai sumber]

Jumat, 05 April 2013

Pria Kejam Aniaya Pacar, Ribuan Sayatan di Tubuh !!

Quanzhou - Seorang pria ditangkap polisi dengan tuduhan menganiaya pacar. Huang X, pria itu, dituduh memukuli pacarnya dengan pipa besi lalu menyayat-nyayat tubuhnya dengan pisau cincang, dan melukainya dengan aneka benda. Perlakuan sadis itu dilakukan selama sebulan lebih.

Sebagaimana dilaporkan Chinasmack, beberapa waktu lalu, saat wartawan menyambangi korban di kantor polisi, mereka hampir tidak percaya dengan apa yang terlihat. Ribuan bekas sayatan pisau dan luka-luka menutupi sekujur tubuhn perempuan itu. Wajahnya bebak belur dan sayatan terlihat di pipinya.

Paha, kaki, tangan, dan hampir di semua bagian tubuh ada luka bekas sayatan pisau dan pukulan benda tajam. Saat bajunya tersingkap terlihat luka seperti dicincang di bagian punggungnya, nyaris tak ada bagian yang mulus di punggungnya.

Korban, Xiao Ping, 16 tahun, datang dari provinsi Hubei mengadu nasib di kota Quanzhou, sekitar setahun lalu. Ia bekerja sebagai "putri" (semacam pemandu) di sebuah tempat hiburan karaoke yang berada di sebuah hotel. Ia diperkenalkan dengan Huang X, 29 tahun, oleh temannya dan tidak lama setelah itu mereka berpacaran.

Menurut Xiao, Huang adalah seorang berandalan yang juga pengangguran. Setiap hari ia hanya bermain kartu dengan teman-temannya. Setelah menjadikan Xiao sebagai pacar, mulanya Huang memperlakukan Xiao dengan baik dan kemudian mereka tinggal bersama di apartemen.

Namun, ia tipe pecemburu dan selalu curiga terhadap apapun aktivitasnya. Apalagi Xiao bekerja di tempat hiburan sehingga membuatnya gampang naik daerah jika Xiao menerima telepon dari seseorang.

Kemudian, datanglah mimpi buruk itu pada 25 April 2012. Budannya dipukul, mukanya ditinju gara-gara ia menerima telepon dari seseorang. Setelah itu, ia disekap di kamar dan penderitaannya berulang hingga sebulan kemudian.

Setiap hari, Huang setidaknya memberinya satu atau dua kali pukulan. Tidak hanya dengan sabuk atau pipa besi, tetapi juga dengan pisau cincang. Usai puas menyiksa pacarnya, Huang menyeretnya ke kamar mandi dan membersihkan luka-luka itu menggunakan air panas dari shower.

Xiao tidak tahan lagi hingga akhirnya kabur dan melapor ke kantor polisi. Kasus itupun terungkap dan publik China pun geger. [tjs]
Pict nya
Spoiler for PICT
[imagetag]

Spoiler for PICT
[imagetag]

Spoiler for PICT
[imagetag]

Spoiler for PICT
[imagetag]
Sumber: http://lintas-copas.blogspot.com/2012/07/pria-kejam-aniaya-pacar-ribuan-sayatan.html

Selasa, 02 April 2013

Pasien Transplantasi Wajah Menikahi Sesama Korban Luka Bakar

Dallas Wiens dan Jamie Nash
Pasien transplantasi wajah Dallas Wiens menikah dengan sesama korban luka bakar hari Sabtu (30/3) lalu di gereja yang sama yang menjadi lokasi kebakaran yang melelehkan wajahnya. Demikian dilaporkan Dallas Morning News.

Tahun 2011, Dallas Wiens menjalani operasi transplantasi seluruh wajah. Prosedur ini adalah yang pertama kalinya dilakukan di Amerika Serikat.

Wiens, 27 tahun, menikahi Jamie Nash yang berasal dari Garland, Texas, di gereja baptis Ridglea di hadapan 150 tamu undangan.

"Aku merasa sangat beruntung karena kamu memilihku, dan aku mencintaimu sepenuh hatiku," ucap Wiens dalam sumpah pernikahannya kepada Nash.

Dallas Wiens dan Jamie Nash
Wiens bertemu Nash tahun 2011 di Dalls Parkland Memorial Hospital saat mereka sama-sama menghadiri grup dukungan untuk korban luka bakar. Nash, 29 tahun, adalah korban kecelakaan lalu lintas bulan Juni 2010 di mana 70 persen tubuhnya terbakar parah. Kini ia berkeliling ke sekolah-sekolah dan gereja untuk berbicara tentang bahayanya SMS-an sambil menyetir.

Sedangkan Wiens adalah seorang pekerja konstruksi yang sedang bertugas mengecat dinding gereja Ridglea pada November 2008, saat pelipis kirinya menyentuh kabel bertegangan tinggi. Seluruh wajahnya terbakar hingga ke tengkoraknya, dan ia pun kini buta.
Dallas Wiens dan Jamie Nash
Wiens sempat tak sadarkan diri di rumah sakit Parkland selama tiga bulan dan melewati lebih dari 20 operasi.

Ini adalah pernikahan kedua baik bagi Wiens maupun Nash. Wiens memiliki putri berusia 5 tahun, sedangkan Nash memiliki putri berusia 10 tahun dan putra berusia 6 tahun.


Sumber: www.yahoo.com

Minggu, 31 Maret 2013

Kisah Nyata Gadis Kecil Yang Jadi Penari Kelab Malam

Hidup sebenarnya tak pernah benar-benar mudah bagi seorang yang punya harta sekalipun. Apalagi bagi anak berusia 9 tahun, Huang Doudou. Ini adalah kisah nyata yang pernah diulas oleh Dailymail. Bagaimana seorang anak di bawah umur harus membantu orang tuanya membiayai keluarga.Mungkin Anda sudah banyak melihat anak-anak yang bekerja untuk membantu orang tua mereka meski usia mereka masih sangat kecil. Namun dapatkah Anda membayangkan seorang anak gadis yang belum sampai 10 tahun sudah harus bekerja dalam bingar kelab malam sebagai penari selama empat malam dalam seminggu?
Itulah yang dilakukan oleh Huang Doudou untuk membantu ekonomi keluarganya. Saat teman-temannya sedang enak tidur di kasur yang empuk dan hangat, mungkin Huang Doudou sedang sibuk merias wajahnya sebelum tampil menari di depan tamu kelab malam di dekat rumahnya di Urumqi, Mongol.
(c) lifeisrealbeauty.com
Huang tampil menggunakan baju menari, sepatu hak tinggi dan riasan wajah yang tebal dan menor. Sangat tidak sesuai dengan anak seusianya yang bahkan belum terlalu mengenal makeup. Huang yang pemberani berkata, "Mungkin ini lucu, namun aku belum selesai melakukan pekerjaanku hingga jam 11 malam dan setelahnya aku masih harus mengerjakan PR untuk sekolah keesokan harinya."
Untuk pekerjaan ini, ia dibayar sekitar £80 sebulan atau sekitar Rp 1,2 juta per bulan. Ia harus menari Latin di depan orang-orang dewasa hingga malam hari tiba dan mendapatkan uang tersebut untuk bisa membantu perekonomian keluarganya yang memprihatinkan. "Aku senang menari dan kadang aku mendapatkan uang tip yang bisa kugunakan untuk membayar tagihan. Kadang aku lelah, namun ini adalah pekerjaan yang baik," ujar Huang polos.
(c) lifeisrealbeauty.com
Ibu Huang mengalami cacat sejak sebuah kecelakaan merenggut kemampuan kakinya. Sang ayah pun menderita radang perut yang parah sehingga tidak bisa mencari pekerjaan. Gadis kecil ini pun punya mimpi sederhana. Ia sangat ingin nonton bioskop. Suatu hari, ibu Huang memenangkan tiket nonton bioskop dan mereka sangat antusias hendak menggunakan tiket tersebut. Sayangnya, ketika mereka sempat menggunakan tiket tersebut, tiket mereka sudah kadaluwarsa.
(c) dailymail.co.uk
Yang diinginkan Huang mungkin bisa kita wujudkan sekejap saja dengan uang yang kita miliki. Meski masih kecil, namun Huang memiliki jiwa seperti orang 20-an tahun yang sudah mencari nafkah untuk hidup. Memberikan pelajaran pada kita bahwa meski hidup ini tak benar-benar mudah dan indah, namun jangan berhenti berusaha membuatnya menjadi mudah.
Semakin sering mengeluh, semakin kita terjatuh. Namun semakin kita berjuang, semakin kita kuat menghadapi badai yang menghadang. Mungkin kondisi kita terbatas, namun bila kita mau melihat, di luar sana ada kesempatan tanpa batas.

Sumber: http://www.vemale.com/inspiring/lentera/20709-kisah-nyata-gadis-kecil-yang-jadi-penari-kelab-malam.html

Senin, 18 Februari 2013

Kisah Anjing Yang Berbudi Baik


Kisah ini adalah sebuah legenda yang hingga sekarang masih diingat di negri China. Bahkan, di beberapa daerah, baju anak-anak kecil dihiasi dengan bordiran berbentuk anjing.Hmm... ada apa dengan kisah anjing di sana? Berikut kami ceritakan ulang seperti yang pernah kami dengar.Dahulu kala, hiduplah dua bersaudara yang sudah yatim piatu. Kedua bersaudara itu hidup sangat rukun dan saling menyayangi. Usianya berbeda cukup jauh, 6 tahun. Tetapi, mereka seperti sahabat yang selalu pergi ke mana-mana berdua. Suatu hari, berbarengan mereka jatuh cinta pada wanita pilihan hati masing-masing. Merekapun memutuskan menikahi gadis pilihan hatinya.
Si sulung memang tidak seberuntung adiknya yang dikaruniai istri cantik, namun istrinya sangat rajin dan gemar membantu suaminya. Alhasil, mereka berdua cepat menjadi kaya dan sangat dermawan. Si adik tetap bersyukur dan sangat mengagumi kakaknya, namun istrinya memiliki hati yang buruk, tidak seperti parasnya.
Beberapa tahun berlalu, si adik sudah dikaruniai dua anak yang lucu. Karena si sulung tak kunjung dikaruniai putra, ia bermaksud mengadopsi keponakannya sendiri, namun adik iparnya menolak.
Hingga suatu hari, si adik jatuh sakit dan meninggal. Si sulung berjanji akan menjaga adik ipar dan keponakannya. Kepada iparnya, ia berkata, "berikanlah satu anakmu untuk kuurus, akan kurawat dan kucintai ia seperti anakku sendiri," katanya. Namun, permintaan itu ditolaknya.
***
Di usianya yang menginjak 40 tahun, pada akhirnya istri si sulung hamil. Mereka sangat gembira dan bersemangat.
Sampai di hari kelahiran anaknya, si sulung harus menemui koleganya di ibukota. Tak tega meninggalkan istrinya sendirian, ia mengutus adik iparnya untuk menemani agar ia tenang di perjalanan.
Tengah malam, istri si sulung merasa kesakitan luar biasa, tampaknya ia hendak melahirkan. Di usianya yang sudah paruh baya, ia harus berjuang keras melawan sakit dan lemah. Timbul niat buruk adik iparnya. Tanpa sepengetahuan istri si sulung, bayi yang dilahirkan ditukar dengan bayi seekor anjing.
Sedih luar biasa hati istri si sulung. Ia berlutut dan menyembah, berdoa mohon ampun kepada Tuhan karena kesalahan yang mungkin telah dilakukannya.
Iapun termenung sambil menggendong anak anjing itu menunggu suaminya pulang.
***
Dengan hati riang, si sulung terburu-buru hendak menemui istrinya. Namun, sayangnya, saat ia menjumpai istrinya, ia menemukan seekor bayi anjing di pelukan istrinya. Ia marah besar, kecewa, menangis.
Tak berapa lama, seekor anjing hitam datang ke kediamannya. Anjing itu mendekat, mengendus dan mencakar-cakar kakinya, bermaksud agar si sulung mengikutinya.
Dengan hati bertanya-tanya, si sulung akhirnya pergi mengikuti anjing tersebut sampai ke padang. Di sisi hutan, di bawah pohon yang batangnya dijadikan perlindungan, di sana terbaring seorang bayi manusia dan dua anak anjing, sama seperti yang di pelukan istrinya.
Si sulungpun mengangguk mengerti, ia membawa pulang bayi dan anjing serta anak-anaknya ke rumah. Mengabarkan kebenaran pada istri, dan tetangga-tetangganya.
Iapun akhirnya melaporkan adik iparnya ke pengadilan untuk diadili.
Sejak hari itu, si anjing hitam diberi kemakmuran oleh si sulung, tuan barunya. Iapun menjadi anjing yang dihargai dan dihormati atas budi baiknya.

Sumber: vemale.com

Minggu, 17 Februari 2013

Bocah Jenius (9 tahun) Bisa Hampir Semua Bahasa Programer



Su Lieyi (9), bocah laki-laki dari Taian City, Propinsi Shandong, dilaporkan sangat piawai dalam beberapa bahasa pemrograman.

Ia telah membuat website pribadi, mengembangkan perangkat lunaknya, dan mencapai tingkat college dengan autodidak, misalnya matematika, fisika, dan kimia.

Liu Xinxin, ibu Su Lieyi, dalam wawancara dengan surat kabar Qilu Evening News, bahwa Su memperlihatkan perhatian besar pada komputer sejak usia 7 tahun, ketika kali pertama diperkenalkan dengan komputer. Waktu itu, ia membelikan beberapa buku komputer tingkat dasar.

Dalam 2 tahun, Su menguasai lebih dari belasan bahasa pemrograman. Pada umur 8 tahun, ia belajar C language, VF (Visual FoxPro), VB (Visual Basic), VC (Visual C), VC++, BASIC, Pascal, PHP, JAVA, dan ASP (Active Server Page).

Menurut Liu, Su memanfaatkan beberapa perangkat lunak gratisan yang didapat di internet untuk mengembangkan sistem operasional miliknya. Ketika sebuah forum moderator memberi Su sebuah micr*soft recruitment assessment form untuk mengujinya. Ia memperoleh nilai 90.

Su menyelesaikan website-nya sendiri dalam waktu kurang dari satu bulan. Ia bilang, “Sebenarnya website adalah sebuah forum. Bertujuan memberitahu orang yang ingin berbagi ketertarikan yang sama dalam pemrograman.”

Sekarang Su belajar sendiri di rumah. Ibunya mengatakan bahwa saat usia 7 tahun, Su masuk kelas lima sekolah dasar untuk memperoleh pengenalan sekolah tetapi ternyata ia telah menguasai seluruh pengetahuan yang diajarkan di sekolah.

Ketika Su usia 8 tahun, ia masuk SMP. Ia dapat menjawab semua pertanyaan yang guru berikan. Sebuah kejutan bagi gurunya bahwa Su lulus ujian dengan nilai 100 untuk matematika dan nilai tinggi untuk bahasa Mandarin dan Inggris.

Liu kemudian memasukkan anaknya ke SMA. Bahan yang diajarkan di sekolah ini juga mudah bagi Su untuk dimengerti. Ia sering mendapat nilai 90 dibidang matematika dan ranking pertama dalam bidang fisika.

Saat ini Su mempelajari buku-buku tingkat perguruan tinggi seperti matematika lanjutan. Liu mengatakan, “Ia tidak pernah membaca keseluruhan buku. Ia sering memeriksa halaman isi buku dan membaca salah satu yang ia merasa tertarik. Kemudian membacanya dengan cermat sampai sepenuhnya mengerti isinya.”

Sumber: http://www.jelajahunik.us/2013/01/bocah-jenius-9-tahun-bisa-hampir-semua.html

Minggu, 03 Februari 2013

KISAH NYATA ANAK DURHAKA DARI SINGAPURA


Sebuah Kisah Nyata dari Negeri tetangga Singapura beberapa dekade lalu yang cukup menghebohkan hingga Perdana Menteri saat itu, Lee Kwan Yew senior turun tangan dan mengeluarkan dekrit tentang orang lansia di Singapura.

Dikisahkan ada orang kaya raya di sana mantan Pengusaha sukses yang mengundurkan diri dari dunia bisnis ketika istrinya meninggal dunia. Jadilah ia single parent yang berusaha membesarkan dan mendidik dengan baik anak laki-laki satu-satunya hingga mampu mandiri dan menjadi seorang Sarjana.

Kemudian setelah anak tunggalnya tersebut menikah, ia minta ijin kepada ayahnya untuk tinggal bersama di Apartemen Ayahnya yang mewah dan besar. Dan ayahnya pun dengan senang hati mengijinkan anak menantunya tinggal bersama-sama dengannya. Terbayang dibenak orangtua tersebut bahwa apartemen nya yang luas dan mewah tersebut tidak akan sepi, terlebih jika ia mempunyai cucu. Betapa bahagianya hati bapak tersebut bisa berkumpul dan membagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya.

Pada mulanya terjadi komunikasi yang sangat baik antara Ayah-Anak-Menantu yang membuat Ayahnya yang sangat mencintai anak tunggalnya itu tersebut tanpa sedikitpun ragu-ragu mewariskankan seluruh harta kekayaan termasuk apartment yang mereka tinggali, dibaliknamakan ke anaknya itu melalui Notaris terkenal di sana.

Tahun-tahun berlalu, seperti biasa, masalah klasik dalam rumah tangga, jika anak menantu tinggal seatap dengan orang tua, entah sebab mengapa akhirnya pada suatu hari mereka bertengkar hebat yang pada akhirnya, anaknya tega mengusir sang Ayah keluar dari apartment mereka yang ia warisi dari Ayahnya.

Karena seluruh hartanya, Apartemen, Saham, Deposito, Emas dan uang tunai sudah diberikan kepada anaknya, maka mulai hari itu dia menjadi pengemis di Orchard Rd. Bayangkan, orang kaya mantan pebisnis yang cukup terkenal di Singapura tersebut, tiba-tiba menjadi pengemis!

Suatu hari, tanpa disengaja melintas mantan teman bisnisnya dulu dan memberikan sedekah, dia langsung mengenali si ayah ini dan menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya dulu. Tentu saja, si ayah malu dan menjawab bukan, mungkin Anda salah orang, katanya. Akan tetapi temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang mengemis di Orchad Road itu adalah temannya yang sudah beberapa lama tidak ada kabar beritanya. Kemudian, temannya ini mengabarkan hal ini kepada teman-temannya yang lain, dan mereka akhirnya bersama-sama mendatangi orang tersebut. Semua mantan sahabat karibnya tersebut langsung yakin bahwa pengemis tua itu adalah Mantan pebisnis kaya yang dulu mereka kenal.

Dihadapan para sahabatnya, si ayah dengan menangis tersedu-sedu, menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya. Maka, terjadilah kegemparan di sana, karena semua orangtua di sana merasa sangat marah terhadap anak yang sangat tidak bermoral itu.

Kegemparan berita tersebut akhirnya terdengar sampai ke telinga PM Lee Kwan Yew Senior.

PM Lee sangat marah dan langsung memanggil anak dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki dan dimarahi habis-habisan oleh PM Lee dan PM Lee mengatakan "Sungguh sangat memalukan bahwa di Singapura ada anak durhaka seperti kalian" .

Lalu PM Lee memanggil sang Notaris dan saat itu juga surat warisan itu dibatalkan demi hukum! Dan surat warisan yang sudah baliknama ke atas nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh PM Lee. Sehingga semua harta milik yang sudah diwariskan tersebut kembali ke atas nama Ayahnya, bahkan sejal saat itu anak menantu itu dilarang masuk ke Apartment ayahnya.

Mr Lee Kwan Yew ini ternyata terkenal sebagai orang yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan menghargai para lanjut usia (lansia). Sehingga, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Mr Lee mengeluarkan Kebijakan / Dekrit yaitu "Larangan kepada para orangtua untuk tidak mewariskan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal. Kemudian, agar para lansia itu tetap dihormati dan dihargai hingga akhir hayatnya, maka dia buat Kebijakan berupa Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta di Singapura memberi pekerjaan kepada para lansia. Agar para lansia ini tidak tergantung kepada anak menantunya dan mempunyai penghasilan sendiri dan mereka sangat bangga bisa memberi angpao kepada cucu-cucunya dari hasil keringat mereka sendiri selama 1 tahun bekerja.

Anda tidak perlu heran jika Anda pergi ke Toilet di Changi Airport, Mall, Restaurant, Petugas cleaning service adalah para lansia. Jadi selain para lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa bekerja, juga mereka bisa bersosialisasi dan sehat karena banyak bergerak. Satu lagi sebagaimana di negeri maju lainnya, PM Lee juga memberikan pendidikan sosial yang sangat bagus buat anak-anak dan remaja di sana, bahwa pekerjaan membersihkan toilet, meja makan diresto dsbnya itu bukan pekerjaan hina, sehingga anak-anak tsb dari kecil diajarkan untuk tahu menghargai orang yang lebih tua, siapapun mereka dan apapun profesinya.

Sebaliknya, Anak di sana dididik menjadi bijak dan terus memelihara rasa hormat dan sayang kepada orangtuanya, apapun kondisi orangtuanya.

Meskipun orangtua mereka sudah tidak sanggup duduk atau berdiri,atau mungkin sudah selamanya terbaring diatas tempat tidur, mereka harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya.

Mereka, warganegara Singapura seolah diingatkan oleh PM Lee agar selalu mengenang saat mereka masih balita, orangtua merekalah yang membersihkan tubuh mereka dari semua bentuk kotoran, juga yang memberi makan dan kadang menyuapinya dengan tangan mereka sendiri, dan menggendongnya kala mereka menangis meski dini hari dan merawatnya ketika mereka sakit.

(Kisah Nyata) Seorang OB menjadi Vice President Citibank


Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .


(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership bank Syariah Mandiri)

Sumber: Kaskus.us

Merenung bentar yuu (KISAH NYATA), Bapak Penjual Amplop


Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas di lihat, barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat.

Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusan plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih.

Astaga, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp 7.500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp 250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu.

Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp 10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis.

Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini : “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka semoga saja perbuatan baik kita dapat berbuah menjadi suatu akibat yang baik pula, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Oleh : Rinaldi Munir, Bandung

Kita patut bersyukur dengan keadaan kita sekarang.. Bagaimana pun itu..
Tuhan mempunyai jalannya sendiri memperlakukan hamba2nya,.
Dan yang ga kalah penting dalam menjalani hidup yaitu IKHLAS

Sumber: Kaskus us

Jumat, 01 Februari 2013

Menyimpan Luka Untuk Diri Sendiri



Selama perang dunia kedua, ada satu kesatuan pasukan bertemu dengan pasukan musuh dan terjadi kontak senjata di dalam sebuah hutan, akhirnya terdapat dua orang prajurit yang kehilangan kontak dengan kesatuannya.
Dalam peperangan itu mereka bisa saling menjaga dan akrab sekali oleh karena mereka adalah teman seperjuangan yang datang dari desa yang sama.
Mereka berdua berjalan dengan susah payah di dalam hutan, saling memberi semangat dan saling menghibur. Sepuluh hari lebih telah lewat, mereka masih juga belum bisa menghubungi kesatuannya, sangat beruntung sekali, mereka bisa mendapatkan seekor rusa, dengan menggantungkan daging rusa mereka masih bisa bertahan hidup untuk beberapa hari lagi.
Mungkin disebabkan oleh situasi perang, binatang-binatang tersebut habis terbunuh semua atau pindah ke tempat lain, karena setelah mendapatkan rusa itu mereka tidak menjumpai binatang apapun lagi. Daging rusa yang tinggal sedikit, dipikul oleh prajurit muda itu diatas punggungnya.
Hari itu, mereka berdua menjumpai musuh didalam hutan, dan sekali lagi mengadakan kontak senjata dengan mereka, setelah itu dengan cerdik mereka berdua menghindari musuh-musuh itu.
Tepat ketika mereka berdua merasakan sudah dalam keadaan aman, terdengar sebuah letupan senjata, prajurit muda yang berjalan di depan terkena tembakan itu, beruntung sekali tembakan itu hanya mengenai lengannya. Teman seperjuangan yang berada di belakang dengan gugup dan ketakutan berlari menghampirinya, temannya itu terlalu ketakutan sehingga mengeluarkan kata-kata yg tak keruan, memeluk tubuhnya dan tak henti-hentinya mengalirkan air mata, dia cepat-cepat menyobek bajunya untuk dibalutkan pada luka di lengan temannya itu.
Malam harinya, prajurit yang tidak terluka itu dengan kedua mata terpaku, mengigau tentang ibunya, mereka mengira riwayat mereka segera akan tamat, daging rusa yang terletak dipinggir mereka tidak ada seorangpun yang ingin menyantap. Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana mereka melewatkan malam itu. Keesokan harinya,mereka ditolong oleh kesatuannya.
Peristiwa ini telah berlalu selama 30 tahun, Anderson prajurit yang terluka itu berkata, “Saya tahu siapa yang telah melepas tembakan itu, dia adalah teman seperjuangan saya. Tahun lalu dia telah meninggal dunia. Ketika dia memeluk saya, saya menyentuh laras senjatanya yang masih panas, tetapi pada malam itu juga saya telah memaafkan dia. Saya tahu dia ingin memiliki daging rusa yang saya bawa itu untuk mempertahankan hidupnya, tetapi saya juga tahu dia ingin mempertahankan hidup demi ibunya. Setelah kejadian tersebut, selama 30 tahun saya berpura-pura sama sekali tidak mengetahui akan hal itu, juga sama sekali tidak pernah menyinggungnya.”
“Perang itu sungguh sangat kejam, akhirnya ibunya juga tidak keburu menunggu dia pulang dari medan perang, saya bersama-sama dia pergi bersembahyang kepada ibunya. Dia berlutut dan memohon saya untuk memaafkan dirinya, saya mencegah dia untuk melanjutkan perkataannya. Kami melanjutkan pertemanan selama 20 tahun lagi. Saya tidak beralasan untuk tidak memaafkan dia.”
Sumber : The Epoch Times (http://groups.yahoo.com/group/if-ubaya2000/message/213)

Perjuangan Seorang Ibu Atas Kesembuhan Anaknya

Sungguh mengharukan, perjuangan seorang ibu ini yang terus berusaha atas kesembuhan anaknya dari penyakit kanker, Sampai detik detik terakhir kehidupan anaknya, ia terus menemani anaknya dan yakin akan kesembuhannya. Meskipun langkah terakhir yang dia ambil harus melepaskan kepergian anaknya.


Cyndie bermain2 dengan anaknya Derek Madsen, 10, menyusuri lorong di UC Davis Medical Center di Sacramento 21 Juni 2005. Sang Ibu berhasil mengalihkan perhatian anaknya dari ketakutan akan pengambilan tulang sumsumnya. Para dokter menganalisa apakah sang Anak cocok untuk transpalasi sel batang darah yang merupakan harapan terbaik untuk kesembuhannya akan Kanker Neuroblastoma, sebuah kanker yang jarang dijumpai pada anak2, penyakit tsb ditemukan pada Derek Madsen pd bulan November 2004.


Sang Ibu (Cyndie) memeluk anaknya, Derek Madsen (umur 10) tertanggal 25 Juli 2005. Setelah menyadari Derek perlu dioperasi utk mengangkat tumor kanker di daerah perut nya. Rasa khawatir, kalut dan sedih bercampur aduk pada sang Ibu. “Bagaimana aku tetap bisa bekerja mencari uang dan melakukan ini?” Sang Ibu mulai cemas .


Derek Madsen, 10, mendapatkan pijatan lembut dari sang Ibu, Cyndie French, di salon miliknya di Sacramento. “Saya akan melakukan apapun utk membuatnya bahagia, melihatnya tersenyum.” Ujar Sang Ibu. Sebagai orang tua tunggal untuk lima anaknya, Cyndie harus menjual salonnya akibat kehabisan uang untuk perawatan medis anaknya .


Derek bermain2 dan tidak mau turun atas penolakannya utk dioperasi. Sang Ibu membujuknya turun dan berjanji agar pembedahan ditunda untuk waktu yang akan datang. Cyndia, membutuhkan waktu berjam-jam untuk membujuk sang Anak di dekat pintu hospital, UC Davis Medical Center Sacramen.


Setelah ultah ke 11 Derek Madsen dan Ibunya yang ke 40, ditemani kakaknya Micah Moffe, 17, di samping kiri, dan Ibunya Cyndie, di samping kanan, untuk menjalani persiapan terapi radiasi 30 November 2005.

6 Februari 2006, Dokter Derek merekomendasikan Cyndie utk mencari seorang perawat untuk membantu di rumah. Ia tidak memberitahu Derek tentang percakapan itu, tapi menangis secara diam2 di balik pintu. “Saya pikir tdk perlu memberitahunya,” ujar sang Ibu. “Mengapa? Buat Apa?” Merasakan kesedihan sang Ibu, Derek mencoba menghibur Ibunya walau tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi.


Menyadari kemungkinan tdk ada kesempatan lagi untuk mengemudi mobil dewasa kelak. Sang Ibu melanggar aturan membiarkan anaknya menyetir sepanjang jalan di Sacramento Barat. 9 Feb 2006, Cyndie bertemu dengan perawat rumahnya, dan memberitahunya bahwa waktu Derek tinggal lama lagi.


Derek menangis dan sang Ibu mencoba meyakinkannya (UC Davis Cancer Center, 14 Feb 2006). Sang Ibu dan Dr. William Hall mendesak Derek utk mendapatkan serangkaian terapi radiasi untuk menghambat penyebaran tumor ke seluruh tubuhnya dan akhirnya dapat mengurangi rasa sakitnya. “Derek, kamu tidak akan sembuh jika tidak mau melakukan ini,” ujarnya. Derek membantah: “Saya tidak Perduli! Bawa aku pulang. Aku sudah tidak ada harapan. Apakah kamu mendengarkan saya ? Aku sudah tdk ada harapan.” 


Cyndie bermain2 dengan anaknya, selama menunggu panggilan dari Dokter.


Cyndie mengusap pipi sahabatnya yang sedang menangis, Kelly Whysong, kiri, 24 April 2006, takut bahwa waktu Derek tidak lama lagi. Cyndie menulis sebuah surat utk anaknya tentang betapa berani dirinya selama masa perjuangannya melawan kanker. Ia membacakan utk anaknya secara berulang-ulang, dan berharap sang Anak dapat mendengarnya. 


Setelah meletakkan kain bergambar bunga utk menyejukkan kepala sang Anak, sang Ibu menangis tersedu2 dan jatuh ke lantai. Sahabatnya, Kelly Whysong dan Nick Rocha mencoba menghiburnya. Derek sudah terlalu lemah menyadari keberadaan sang Ibu sebagaimana sang Ibu terus menerus berjaga di sampingnya.


Energi disaat terakhir untuk bangun setelah berhari-hari ia berada di atas ranjangnya. Sang Ibu menolong anaknya untuk berjalan (26 April). Sebuah Kanker Tumor telah membuat perut Derek menjadi kembung dan celananya menjadi tidak muat lagi. Sedangkan Tumor yang lain menyerang di otaknya dan membuat penglihatan Derek menjadi kabur sehingga ia sulit untuk kemana-mana di dalam rumah kontrakannya. 

Derek menolak pengobatan apapun karena ia takut malah akan membuat lebih sakit dan merusak organnya. Ia mengamuk dengan hebat dan menyalahkan sang Ibu (28 April) tdk membuatnya lebih sehat. “Kamu harus tenang, nak dan biarkan aku menolongmu”, Cyndie terbata-bata. 


Derek mencium ibunya di lapangan, sebagaimana adiknya berdiri di samping. Cyndie memberitahu kepada orang di sana bahwa ia bangga akan keberanian anaknya dalam melawan kanker


Cyndie merangkul Derek 8 Mei. Terapi yang membuat ia sulit berbicara dan membuatnya terjaga sepanjang malam. Kecuali utk beberapa menit sewaktu perawat berada di sana, Cyndie hampir menghabiskan setiap momen dengan berada di samping anaknya. “Saya telah lelah melebihi keyakinanku tapi Aku harus melakukan ini. Ia akan
memanggil namaku dan selalu berharap aku berada di sisinya,” Ujar Cyndie 


Dalam usahanya membawa keluar Derek utk merasakan kehangatan mentari dan udara luar. sang Ibu melewati pintu2 yang sudah dipasangi karya seni dan kartu2 ucapan dari teman sekelas anaknya. Derek Madsen keluar rumah untuk yang terakhir kalinya. 


Cyndie berkecamuk dalam batinnya, 10 Mei, utk memutuskan agar anaknya dapat meninggal tanpa perlu terlalu sakit berlama-lama. Ia membiarkan sang Suster melakukan tugasnya. 


Tidak lama kemudian, Secara perlahan-lahan Derek Madsen meninggal di pangkuan sang Ibu, Cyndie. 10 Mei 2006 


Cyndie memimpin pemakaman anaknya Derek Madsen, didampingi Derek, Anthony, Micah, Vincent Morris dan beberapa teman lainnya. Derek dimakamkan di Mount Vernon Memorial Park, California, 19 Mei 2006. “Saya akan selamanya mengingat kamu di dalam hatiku dan mengingatkan orang lain untuk memberikan waktu, tenaga dan dukungan pada keluarga mereka atau kepada yang membutuhkan sebagaimana adanya kita,” ujar sang Ibu.

Sumber: www.gangunik.blogspot.com