Senin, 18 Februari 2013

Cinta Tak Butuh Alasan


kata ayahku, berbuat baik itu tidak perlu banyak berpikir. Nanti hilang ketulusannya. Kini aku mencintai suamiku juga tidak pernah bisa menemukan rangkaian kata yang tepat untuk menjelaskannya.Sebelum ini, aku tidak pernah tahu artinya mencintai tanpa alasan. Sampai aku bertemu dengan Rudi. Dia mengajarkanku segalanya, menembus batas-batas angkuhku sebagai wanita. Membuatku lebih berani jujur pada diriku sendiri.Dulu, aku begitu mengagumi sahabat Rudi yang bernama Kris. Dia kharismatik, easy going dan pintar. Aku merasa bahwa kami cocok. Sering pergi berdua, sama-sama populer, teman-teman juga bilang kalau kami sama-sama tampan dan cantik.Namun kami terjebak pada suasana ini. Terlalu nyaman dalam zona teman, dia pun tak ada inisiatif. Kris seolah memberi harapan dengan banyak memberikan kebaikan dan perhatian. Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan kejelasan.Sementara aku terus menjaga imageku sebagai wanita. Aku merasa menjadi pihak yang harus diperjuangkan. Lalu Kris mulai berubah dan sedikit menjaga jarak. Aku sedikit kesal dan menceritakannya pada Rudi.
"Kenapa tidak kau katakan saja perasaanmu pada Kris?" tanya Rudi.
"Aku perempuan, Rud," jawabku menekankan.
"Lalu?" tanya Rudi lagi.
Pertanyaan Rudi membuntukan pikiranku hingga aku berpikir bahwa dia tidak mengerti aku. Tapi ia segera menjelaskan, "Nita, coba kau ambil sebuah kertas, ambil bolpoin dan jelaskan kenapa kau menyayangi ayahmu dalam satu kata."
Mendengar hal itu, aku berpikir, "Nggak nyambung, Rud," jawabku. Lantas aku meninggalkannya dengan wajah yang masam.

Namun di malam harinya, aku mencoba apa yang dikatakan Rudi. Kuambil kertas dan coba kugambarkan perasaanku dalam satu kata. Aku menyayangi ayahku karena... Karena...
Baiklah, aku tak bisa mengatakan aku menyayanginya karena ia adalah tulang punggung keluarga. Itu lebih dari satu kata. Kucoba berpikir keras menemukan jawabannya, namun tak juga kutemukan kata-kata yang pas.
Tanpa sadar, kutuliskan sebuah kata. CINTA.
Keesokan harinya, kutunjukkan tulisan itu pada Rudi. Dia tersenyum dan berkata, "Kau benar, Nit. Ini jawabannya."
Aku memandanginya masih tidak mengerti. Kemudian Rudi berkata, "Cinta itu tidak logis, Nit. Tidak butuh alasan. Jadi kalau kau suka pada Kris, utarakan saja. Bukan karena kau adalah perempuan, maka kau membatasi diri. Nanti kau yang akan menyesal."
Sebenarnya aku masih kurang paham, tapi pada akhirnya, aku memang mengutarakan perasaanku pada Kris. Aku sudah tahu dia akan menerimaku. Namun entah mengapa, ada yang mengganjal.
Sejak itu, aku jarang melihat Rudi. Kalau aku bertanya pada Kris, dia bilang Rudi sedang konsentrasi untuk ujian akhir.
Ada rindu yang menjalar di hatiku. Aku sangat senang setiap kali aku bisa bertemu Rudi, walaupun itu hanya sebentar. Kris memang pria idamanku, tapi dia terlalu flat. Kemesraan yang kubayangkan hanya angan-angan. Nyatanya Kris adalah orang yang jaim untuk menjadi romantis dan hangat.
Hubungan kami pun berakhir hanya dalam 4 bulan. Aku tidak merasakan patah hati. Aku merasa baik-baik saja hingga lulus SMA. Namun tetap saja, aku merindukan Rudi.
Aku hampir kehilangan suamiku itu, andai aku tidak memberanikan diri bertanya pada Kris di mana Rudi berada. Rudi akan sekolah ke Australia dan bagaikan adegan film aku mengejarnya ke airport. Rudi kaget melihatku.
"Kok kamu ada di sini, Nit?" tanya Rudi.
"Kamu..kamu kenapa tidak mengabariku... Kalau kamu mau ke luar negeri?" tanyaku terengah-engah. Aku berlari mencari taksi dan berputar-putar mengelilingi bandara agar bisa menemukan Rudi. Aku takut dia sudah pergi.
"Kenapa, Nit?" tanya Rudi, ia seperti orang yang tidak percaya kalau aku ada di situ.
Aku memegang tangan Rudi dan berkata, "Rud, kau harus bertanggung jawab. Aku tidak bisa berhenti memikirkan kata-katamu. Kau mengajariku jujur pada perasaanku, dan kini aku menyadari bahwa..." aku berhenti sejenak sambil masih terengah-engah.
"Bahwa apa, Nit?" tanya Rudi.
"..bahwa," aku makin tak tahan memandangnya. Serta merta aku memeluk Rudi dan berkata, "Rud, aku mencintaimu."
Rudi terhenyak. Aku tahu dia terkejut, tapi aku bisa merasakan kalau dia tidak menolak pelukanku. Rudi justru memeluk aku kembali tanpa banyak bicara. Saat terdengar pengumuman tentang keberangkatan pesawat, Rudi berkata lirih, "Tunggu aku, ya? Nanti kita berkirim e-mail. Jaga dirimu baik-baik, Nit."
Rudi pun berangkat ke Australia. Kami berhubungan jarak jauh selama 3 tahun. Kemudian menikah di tahun keempat.
Selama itu, hingga hari ini, aku menikmati cinta di antara kami. Mungkin tak banyak kata-kata mesra keluar dari mulut Rudi. Namun ia melakukan banyak hal yang bisa membuat cinta kami menjadi lebih realistis. Ia menjadi suami yang selalu bisa mencintaiku tidak hanya lewat perkataan, tapi juga perbuatan.
Kalau aku selalu terpekur dalam rasa jaim dan tidak belajar untuk jujur, mungkin aku tidak akan bertemu Rudi. Cinta memang tak butuh alasan, tak bisa dijelaskan, tapi bisa dituangkan dalam perbuatan. Aku tak pernah bertanya apa Rudi mencintaiku dan kenapa dia mencintaiku. Tapi yang aku tahu, dia tulus mencintaiku seperti aku mencintainya.

Sumber: vemale.com

Maaf Sayang, Tapi Aku Harus Pergi


Rena: Terkadang aku hanya tak bisa mengerti, mengapa ada pria yang mengatakan cinta kemudian tiba-tiba ia meninggalkan kita tanpa sebab yang jelas. Hanya ada kata perpisahan yang menyakitkan dan menghancurkan hati. Apakah memang hati wanita diciptakan untuk itu?
***
Bagas: Aku tahu, apa yang aku lakukan ini tentunya akan menyakiti hati Rena, tetapi aku sungguh-sungguh mencintainya. Dan aku tidak ingin membuat ia sedih dengan mengatakan yang sejujurnya. Karena hatinya akan jauh lebih terluka, ia akan kecewa, dan terlebih lagi, sebenarnya aku yang takut ditinggalkannya...
***
Rena: Bagas, adalah pria yang kukenal 4 tahun silam dari sepupuku. Kami bertiga kuliah di tempat yang sama, tinggal di tempat yang sama, kelaparan bersama-sama, dan berlari ke warung Padang terdekat setelah mendapat kiriman dari orang tua.
Kami sama-sama merantau di kota orang, mengejar mimpi dan dibekali doa agar dapat meraih prestasi. Demikian mimpi yang sama membuat kami tak lantas hanya bisa menghabiskan uang hasil kiriman orang tua. Kami bertiga saling memberi motivasi dan semangat agar kuliah kami diselesaikan dengan baik seperti keinginan keluarga.
Melewati ratusan peluh dan air mata, kami berjanji untuk menjadi sahabat yang saling menjaga hingga pendidikan yang harus kami tempuh ini usai. Demikianlah, tanpa kuduga sebelumnya, aku jatuh cinta pada Bagas. Sosok yang sebenarnya kuanggap sebagai sahabat, yang sama-sama tak ingin mengecewakan orang tua masing-masing. Aku tahu. Ia juga menyimpan perasaan yang sama, semua itu terlihat jelas dari binar matanya.
Dan benar. Tebakanku tidak salah, perasaan itu memang seperti radar yang tak berbohong ketika berbicara soal cinta. Bagas mencintaiku. Diam-diam di belakang sepupuku, kami menjalin hubungan, saling mencintai satu sama lain, saling menjaga satu sama lain. Aku bahagia karena cintanya.
***
Bagas: Rena, gadis cantik yang selalu kuat dengan senyum menawannya. Tak seperti gadis lain yang cengeng dan manja, ia tahu sekali kapan saat harus bersikap sebagai wanita, dan kapan harus mandiri. Aku jatuh cinta padanya, sejak pertama kali aku melihatnya.
Kami berjanji untuk menjadi sahabat yang saling mendukung mimpi, sehingga untuk waktu yang lama, aku harus berakting menjadi sahabatnya demi menjaga ia tetap dekat denganku. Sekian hari kuamati, aku menangkap gelagat yang sama. Kuberanikan diriku menyatakan cintaku padanya, dan ia membalas cintaku. Aku bahagia karena cintanya.
***
Rena: sudah 3 tahun berjalan kuliah kami, setengah bulan lagi aku harus bisa menyelesaikan kuliah ini. Aku tak ingin ayah dan ibu menunggu terlalu lama. Aku ingin membuat mereka bangga. Tetapi, aku tak ingin meninggalkan Bagas.
Awalnya, aku mengira Bagas sedih dan masih tak rela ditinggalkan. Gelagatnya tampak aneh dan menjadi pendiam. Kami jadi jarang bertemu berdua seperti dulu lagi. Ia hanya muncul saat sepupuku ada, dan sisanya ia habiskan di kamar sendiri atau di luar, dengan alasan-alasan yang tak pernah kuketahui. Apakah dia sudah punya yang lain?
Aku berusaha mengusir pikiran buruk itu, dan menganggap bahwa aku terlalu sensitif sebagai seorang wanita. Tetapi lambat laun, sikapnya benar-benar mengganggu, sampai...
"Kamu apa-apaan sih? Aku ngerasa kamu menghindar deh, apa aku berbuat salah sama kamu?" aku mendorong tubuh Bagas ke dalam rumah kontrakan, saat kutanggap dia hendak pergi menghindariku lagi. Kali ini aku tak kehabisan akal. Aku berpura-pura harus kuliah pagi, namun kutunggu dia keluar dari persembunyiannya.
"Apa sih Ren? bukannya seharusnya kamu kuliah pagi ini? aku juga buru-buru nih!" tegas Bagas padaku tanpa melihat wajahku. Ia menatap ke jalan, seolah memang tak ingin diganggu. "Nggak. Tunggu dulu. Jelasin dulu ke aku, kenapa kamu jadi bersikap aneh begini? Baru deh aku akan melepaskan kamu," kataku lagi.
"Aku capek. Aku punya banyak tanggung jawab kepada kedua orang tuaku. Jadi aku minta kamu nggak mengganggu aku. Itu aja, aku harap kamu bisa mengerti tanpa menuntut sesuatu yang tak perlu dijelaskan lagi. Sudah! Aku pergi." Bagaspun sekejap saja menghilang dengan motornya. Meninggalkan tanda tanya yang perlahan luntur dibawa air mata. Segera saja kusadari, mataku sudah tak sanggup menahan kaca-kaca yang makin menebal. Kaca tersebut kemudian jatuh, pecah dan membasahi bajuku.
Semenjak hari itu aku selalu bertanya, apa yang salah dari diriku. Sepupuku jadi heran, mengapa aku dan Bagas lebih sering murung dan menyendiri. Namun, aku berhasil sekali lagi mengelabuinya. Sebulan cukup memberiku waktu untuk menjadi wanita yang cengeng dan tidur di atas air mata. Kuseka air mata itu, dan segera kuselesaikan kewajibanku agar bisa kubanggakan sepulang dari kota nanti. Ayah, ibu, tunggu anakmu...
***
Bagas: Aku tak ingat sejak kapan aku merasa sakit perut. Sakit nyeri yang semakin hari semakin kuat ini mengangguku, hingga suatu hari aku nyaris pingsan dan berhasil ditolong oleh Roy. Iapun menyarankanku bermain ke rumahnya. Ayahnya adalah seorang dokter, mungkin ia bisa membantu memeriksa kondisiku dengan cuma-cuma. Roy tahu benar aku anak perantauan, jadi kali ini ia meminta ayahnya tak menarik sepeserpun dari jasanya.
"Sejak kapan kamu merasa sakit perut begini?" tanya ayah Roy. Aku menggeleng, aku bahkan tak pernah ingat. "Nggak ingat, Om. Biasanya memang cuma mual-mual saja, seperti sakit maag, tapi diminumi obat juga udah baikan kok. Mungkin hari ini kelelahan saja," hiburku.
"Apakah kamu juga seringkali merasa pusing karena anemia?" tanyanya lagi membuatku jadi curiga. "Iya kadang sih, Om. Kenapa ya? apakah serius Om?" aku jadi deg-degan dan cemas.
"Om sarankan kamu pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan sinar X. Nanti Om beri pengantarnya. Om tidak yakin, tetapi dari gejala dan keluhan yang kamu rasakan, Om rasa ini adalah kanker perut. Kita harus tahu, sudah seberapa besar ia berkembang di dalam perut dan mengganggu lambungmu." Bagaikan petir di siang hari, semua berita itu menyambar tanpa memberi ampun. Tanpa menunggu lama akupun mengikuti saran Om, dan memeriksakan diri. Masih dibantu oleh Roy dan ayahnya, aku mendapatkan diriku ternyata sudah berada di stadium 4. Om bilang tak berani memprediksikan usia, karena usia itu di tangan Tuhan. Yang dapat dilakukannya adalah membantu pengobatakanku dan meringankan rasa sakitku.
Hari itu, aku merasa hidupku hancur. Aku takut kehilangan segala sesuatu yang tengah manis kunikmati saat ini. Aku takut kehilanganmu Ren...
***
Rena: Hari ini adalah hari wisudaku. Rasanya sebagian beban terlepas dari bahuku. Namun, ada satu hal yang membuatku gelisah sedari tadi. Aku tak menemukan batang hidung Bagas di manapun, apakah ia benar-benar sudah melupakanku? Apakah dia tak sedikitpun ingin merayakan hari bahagiaku?
Aku meminta ayah dan ibuku untuk pulang lebih dulu. Berbekal alasan masih ingin mengurus surat ini itu, aku akan tinggal 2 minggu lagi di sini. Dalam hati aku sadar, 2 minggu itu akan kumanfaatkan baik-baik untuk mencari tahu mengapa Bagas berubah.
***
Bagas: Aku tahu ini adalah hari terakhir Rena di sini. Dengan terpaksa aku harus menemaninya sampai ke stasiun. Aku tetap menunjukkan sikap dingin kepadanya, walau hati ini rasanya tak rela. Ingin sekali aku memeluknya, menghujaninya dengan ciuman selamat karena ia berhasil menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Tapi setiap kali melihatnya, kuurungkan niat itu. Aku tak ingin melihatnya terluka. Aku sangat mencintainya.
"Aku ingin mampir ke taman itu dulu Gas," kata Rena dengan lirih. Awalnya aku enggan, namun melihat wajahnya yang memelas, akupun mengantarnya ke taman tempat kami sering duduk berdua dulu.
Ia berlari ke sebuah pohon, dicarinya inisial yang kami pahat di sana dulu. B & R, semuanya tak ada. Rena terisak dan memekik lirih, "hilang... semuanya hilang... di mana ya? kayaknya di sini, tapi kok nggak ada. Gas, hilang Gas..." aku yang tak tega sengaja menjaga jarak. Aku tak ingin terlibat emosinya saat itu. Kubiarkan ia menangis sendiri hingga ia puas. Ia diam, menghapus air matanya, dan berjalan ke arahku.
"Aku tak mengerti sampai sekarang, mengapa sikap dinginmu itu tetap saja kau tunjukkan. Apa sih yang sebenarnya kau inginkan? Aku tak tahu. Baiklah, mungkin memang sudah ada yang mengisi hatimu. Antar aku ke stasiun Gas," kata Rena dengan mata sayu tanpa energi. Keceriaan dan semangatnya seperti luntur disapu kesedihan mendalam di hatinya.
Akupun mengantarnya ke stasiun, melepas kepergiannya yang sebenarnya tak kurelakan. Untunglah hari itu hujan, setiap tetes air hujan itu menyelamatkanku. Air mata yang keluar dan mengalir di pipiku tak ada yang tahu. Aku hanya berjalan gontai dan membiarkan orang yang kusayangi pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya. Aku hanya berharap ia tak terluka dan tak bersedih akan kepergianku...
Maafkan aku Ren, aku mencintaimu...
***
Rena: Yah, demikianlah cinta. Mungkin aku saja yang terlalu berharap dan memimpikan yang tidak-tidak. Terpaksa harus kutelan pedih ini sendiri, tanpa tahu kesalahanku yang sebenarnya. Oh, aku tahu. Kesalahanku adalah mencintaimu yang tak mencintaiku juga.
Baiknya, aku kubur semua perasaan itu. Aku akan kembali ke kotaku. Selamat tinggal, Bagas...

Sumber: vemale.com

Sesuatu Terjadi Karena Sebuah Alasan


Saat terjadi sesuatu yang baik, rasanya mudah saja untuk mengatakan 'memang sesuatu terjadi karena sebuah alasan'. Berbeda jika hal itu adalah buruk dan menjengkelkan, tiada henti-hentinya kita menanyakan 'mengapa ini terjadi?'. Tidak hanya peristiwa, orang yang kita temui setiap harinya juga hadir karena sebuah alasan; dan alasan itu selalu positif jika kita mau berpikir secara proses, tidak hanya dari hasilnya saja.Seringkali kita harus berhadapan dengan situasi yang menyakitkan, dan merasa bertemu dengan orang-orang yang salah. Sebagian orang memilih untuk melupakan dan tidak mau tahu dengan hal-hal buruk itu, sementara sebagian lainnya tidak bisa menerima keadaan dengan menuntut ganti rugi dan meluapkan kemarahan atau membalas dendam. Berapa banyak orang yang bisa berdamai dengan rasa sakit dan menyadarinya sebagai suatu proses?Rasa sakit, kesedihan dan kekecewaan bukanlah sesuatu untuk dilupakan, tidak juga untuk dihilangkan dengan menuntut balas. Cara yang terbaik untuk melaluinya adalah dengan menerima dan mengolah rasa yang merugikan ini menjadi sesuatu yang membangun diri. Bahkan hal buruk pun sebenarnya ikut membentuk pola pikir dan kebijaksanaan seseorang dalam menghadapi sesuatu.Dalam keadaan berkelimpahan mungkin tidak pernah terpikir untuk menghemat dan memanfaatkan fungsi barang dengan lebih efisien. Rasa tidak berdaya karena keterbatasan memang menyakitkan; seringkali kita dipandang remeh dan harus menahan keinginan karena tidak mampu membeli. Namun jika dilihat sebagai proses, keadaan itu membentuk gaya hidup yang lebih efisien, sederhana dan hemat. Pada saatnya, ketika kesuksesan di tangan, kita bisa menjadi seorang yang berkelimpahan dengan gaya hidup yang lebih bijak.Berinteraksi dengan orang yang salah akan menimbulkan kekecewaan dan juga kerugian. Namun orang itu juga mengingatkan kita agar tidak berlaku yang sama pada orang lain. Dia menjadi jalan bagi kita untuk belajar bagaimana harus bersikap di saat kecewa dan jengkel. Keimanan dan prinsip hidup benar-benar diuji dalam hal yang demikian, membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih matang.Berhentilah terpuruk dan marah karena sesuatu yang buruk, segeralah tersenyum karena Anda sedang mendapatkan satu lagi pelajaran dan pengalaman baru.

Sumber: vemale.com

Jumat, 01 Februari 2013

Penolong Pria



Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari pompa bensin itu untuk melemaskan kaki.
Ketika kembali ke mobil, dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan dia mendengar orang itu berkata, “Asyik sekali mengobrol denganmu.”
Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah dia kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun.
“Astaga, untung kau ketemu aku,” Wheeler menyombong. “Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama.”
“Sayangku,” jawab istrinya, “Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin.”
(The Best Of Bits & Pieces, satu dari 71 Kisah dalam Buku Chicken Soup For The Couple’s Soul)
Sumber : http://www.jilbabcantik.com/Suami%20Hebat%20Karena%20Istri%20Hebat.htm

Menyimpan Luka Untuk Diri Sendiri



Selama perang dunia kedua, ada satu kesatuan pasukan bertemu dengan pasukan musuh dan terjadi kontak senjata di dalam sebuah hutan, akhirnya terdapat dua orang prajurit yang kehilangan kontak dengan kesatuannya.
Dalam peperangan itu mereka bisa saling menjaga dan akrab sekali oleh karena mereka adalah teman seperjuangan yang datang dari desa yang sama.
Mereka berdua berjalan dengan susah payah di dalam hutan, saling memberi semangat dan saling menghibur. Sepuluh hari lebih telah lewat, mereka masih juga belum bisa menghubungi kesatuannya, sangat beruntung sekali, mereka bisa mendapatkan seekor rusa, dengan menggantungkan daging rusa mereka masih bisa bertahan hidup untuk beberapa hari lagi.
Mungkin disebabkan oleh situasi perang, binatang-binatang tersebut habis terbunuh semua atau pindah ke tempat lain, karena setelah mendapatkan rusa itu mereka tidak menjumpai binatang apapun lagi. Daging rusa yang tinggal sedikit, dipikul oleh prajurit muda itu diatas punggungnya.
Hari itu, mereka berdua menjumpai musuh didalam hutan, dan sekali lagi mengadakan kontak senjata dengan mereka, setelah itu dengan cerdik mereka berdua menghindari musuh-musuh itu.
Tepat ketika mereka berdua merasakan sudah dalam keadaan aman, terdengar sebuah letupan senjata, prajurit muda yang berjalan di depan terkena tembakan itu, beruntung sekali tembakan itu hanya mengenai lengannya. Teman seperjuangan yang berada di belakang dengan gugup dan ketakutan berlari menghampirinya, temannya itu terlalu ketakutan sehingga mengeluarkan kata-kata yg tak keruan, memeluk tubuhnya dan tak henti-hentinya mengalirkan air mata, dia cepat-cepat menyobek bajunya untuk dibalutkan pada luka di lengan temannya itu.
Malam harinya, prajurit yang tidak terluka itu dengan kedua mata terpaku, mengigau tentang ibunya, mereka mengira riwayat mereka segera akan tamat, daging rusa yang terletak dipinggir mereka tidak ada seorangpun yang ingin menyantap. Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana mereka melewatkan malam itu. Keesokan harinya,mereka ditolong oleh kesatuannya.
Peristiwa ini telah berlalu selama 30 tahun, Anderson prajurit yang terluka itu berkata, “Saya tahu siapa yang telah melepas tembakan itu, dia adalah teman seperjuangan saya. Tahun lalu dia telah meninggal dunia. Ketika dia memeluk saya, saya menyentuh laras senjatanya yang masih panas, tetapi pada malam itu juga saya telah memaafkan dia. Saya tahu dia ingin memiliki daging rusa yang saya bawa itu untuk mempertahankan hidupnya, tetapi saya juga tahu dia ingin mempertahankan hidup demi ibunya. Setelah kejadian tersebut, selama 30 tahun saya berpura-pura sama sekali tidak mengetahui akan hal itu, juga sama sekali tidak pernah menyinggungnya.”
“Perang itu sungguh sangat kejam, akhirnya ibunya juga tidak keburu menunggu dia pulang dari medan perang, saya bersama-sama dia pergi bersembahyang kepada ibunya. Dia berlutut dan memohon saya untuk memaafkan dirinya, saya mencegah dia untuk melanjutkan perkataannya. Kami melanjutkan pertemanan selama 20 tahun lagi. Saya tidak beralasan untuk tidak memaafkan dia.”
Sumber : The Epoch Times (http://groups.yahoo.com/group/if-ubaya2000/message/213)

Rabu, 30 Januari 2013

Good Mood



Pernahkah anda bertemu seseorang yang TAK PEDULI SEBERAPA FRUSTRASI nya dia, dia tetap menemukan CARA untuk TERSENYUM dan GEMBIRA?
Seseorang yang berkata:
“Yah susah sih, tapi bisa lah!”,
atau
“Wah ga tau nih kenapa begini.. tapi terus jalan deh!”,
atau bahkan
“GUA DIPECAAAATT! …senangnya bisa cari kerjaan baru! nanti malam jalan yuk? lu traktir ya! Gue kan pengangguran!”
Lalu, pernahkah anda bertemu seseorang yang SEBERAPA BERUNTUNGNYA DIA, ia SELALU SAJA MENGELUH?
Seseorang yang berkata:

“Walau gaji naik, tetap aja GA CUKUP!”
atau
“BMW sih BMW, tapi kan gue mintanya Ferarri! ..tau ah bete!”
Pada dasarnya, EMOSI itu MENULAR. Jika anda dapat MEMANCARKAN emosi POSITIF layaknya TIDAK ADA SATU HAL PUN yang dapat MERENGGUT KEBAHAGIAAN anda, maka lawan jenis anda akan merasakan juga EMOSI POSITIF anda dan membuatnya jauh-jauh lebih TERTARIK kepada anda.
Namun efek GOOD MOOD tidak sampai disitu saja. Andapun akan tampak BERBEDA dan UNIK karena FAKTANYA, 90% umat manusia adalah makhluk yang lebih memilih untuk MENGELUH dibandingkan BERSYUKUR dan BAHAGIA.
Oleh karena itu, BE HAPPY and STOP COMPLAINING. Apapun halangan nya, anda dapat menanganinya TANPA KELUHAN.
Jadilah pencinta yang POSITIF menghadapi semua HAL NEGATIF, maka anda akan tampak JAUH-JAUH-JAUH LEBIH MENARIK bagi lawan jenis anda, maupun SIAPAPUN yang anda temui.
Itu PASTI.

Sumber: http://perihalcinta.com/good-mood/

Selasa, 29 Januari 2013

Hidup Memang Serba Salah


HIDUP memang SERBA SALAH.
Maaf jika terdengar pesimis, namun itulah KENYATAAN nya.
Kita sebagai manusia memiliki ILUSI untuk berpikir bahwa kita akan BAHAGIA jika kita MEMILIKI, MENDAPATKAN atau MENJADI seperti apa yang kita inginkan.
“Saya akan BAHAGIA jika saya mendapatkan pacar cantik, ganteng, setia, kaya, penurut, badboy, badgirl, nice guy, nice girl, muda, tua, dewasa, imut, cute, tinggi, pendek, putih, hitam, dan lain-lain”.
“Saya akan BAHAGIA jika saya jadi artis, sutradara, milyarder, manager, pengusaha, pemodal, pekerja kantoran, presiden, menteri, gubernur dan lain-lain”.
“Saya akan BAHAGIA jika saya punya baju mahal, mobil mahal, rumah mahal, harta karun, pulau, pesawat, helikopter dan lain-lain”.
Namun KENYATAAN nya, kita tidak kunjung bahagia WALAUPUN kita SUDAH memiliki, mendapatkan ataupun menjadi seperti apa yang kita inginkan.
Awalnya mau pacar cantik/ganteng.
Setelah dapat pacar cantik/ganteng ingin yang imut.
Setelah dapat yang imut ingin yang setia.
Setelah dapat yang setia ingin yang penurut.
Setelah dapat yang penurut ingin yang agak binal.
Setelah dapat yang agak binal ingin yang luar biasa.
Setelah dapat yang luar biasa ingin yang biasa.
Mau keluar negeri, tapi setelah keluar negeri malah rindu pulang.
Mau terkenal, tapi setelah terkenal malah butuh privacy.
Saat sibuk mau santai. Saat santai mau sibuk.
Mau benda A, tapi setelah dapat A ternyata ingin B.
Hidup MEMANG SERBA SALAH, bukan?
Kita manusia TIDAK AKAN PERNAH BAHAGIA..
saya ulangi..
Kita manusia TIDAK AKAN PERNAH BAHAGIA..
....jika kita masih memiliki ILUSI bahwa kebahagiaan akan datang SAAT kita memiliki, mendapatkan atau menjadi seperti apa yang kita inginkan.
Kebahagiaan datang bukanlah saat kita memiliki, mendapatkan atau menjadi seperti apa yang kita inginkan, melainkan saat kita MENCINTAI dan MENSYUKURI apa yang kita miliki SAAT INI.
Mengapa SAAT INI?
Karena hari kemarin SUDAH LEWAT, dan hari esok BELUM DATANG.
Kita hanya dapat merasakan sesuatu SAAT INI dan SAAT INI saja.
gratitude
Jika anda belum punya pacar, bersyukurlah karena anda masih punya kebebasan untuk bergaul dengan lawan jenis seluas-luasnya tanpa larangan atau kecemburuan seorang pacar.
Jika anda belum sukses soal percintaan, bersyukurlah karena anda masih bisa membeli eBook dan mengikuti seminar saya yang tentu saja akan amat sangat membantu kehidupan percintaan anda.
Jika anda belum punya apa-apa, bersyukurlah karena anda masih bisa hidup, masih bisa makan, masih bisa menikmati kesehatan, dan masih bisa membaca tulisan saya yang amat sangat luar biasa spektakuler ini.
Oleh karena itu, CINTAI dan SYUKURI apapun yang anda punya SAAT INI.
Saat anda mencintai dan mensyukuri apapun yang anda punya SAAT INI, maka hidup tidak lagi SERBA SALAH, melainkan SERBA PUAS, SERBA NIKMAT.
Saat anda mencintai dan mensyukuri apa yang anda punya SAAT INI, saat ini pula lah anda BAHAGIA.
Namun apakah MENCINTAI dan MENSYUKURI apa yang anda punya saat ini BERARTI anda TIDAK MELAKUKAN APA-APA untuk memiliki, mendapatkan atau menjadi seperti apa yang anda inginkan?
TENTU SAJA TIDAK.
MENCINTAI dan MENSYUKURI apa yang anda punya saat ini BUKAN BERARTI anda TIDAK MELAKUKAN APA-APA untuk memiliki, mendapatkan atau menjadi seperti apa yang anda inginkan. Hanya saja INGAT bahwa memiliki, mendapatkan dan menjadi seperti apa yang anda inginkan TIDAKLAH membuat anda BAHAGIA.
Yang membuat kita BAHAGIA adalah saat kita MENCINTAI dan MENSYUKURI apa yang kita miliki SAAT INI.
Lakukanlah YANG TERBAIK untuk memiliki, mendapatkan dan menjadi seperti apa yang anda inginkan, namun CINTAI, SYUKURI dan NIKMATI setiap detik PROSES nya mulai SAAT INI.
Hidup memang serba salah. Oleh karena itu, nikmati saja.

Sumber: http://perihalcinta.com/hidup-memang-serba-salah/

[renungan] Yang terbaik

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun
yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim
bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain
yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya
di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap
pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul
bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan
kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah
pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu
hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun.
Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena
mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah
berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu
yang biasa dilakukannya pada malam hari.


"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang
dapat mencintaiku seperti dia".

"Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah
seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa
nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja
yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk
selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik
bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari
penggantinya."
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk
tinggal bersamanya. Bersama-sama,mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah
yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan
selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga
selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu,Sherri selalu datang dan
bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya
bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang
diri.

"Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang?
Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?"

Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja
sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil
memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola.
Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak
berlatih extra keras dalam beberapa hari ini.

"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah
Luke. "Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."

Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain
dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua
single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat
timnya berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke
bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir
lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan,"katanya kepada Luke."Aku
tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang
membuatmu jadi begini?"
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air
mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata
"Pelatih,ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.
Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat
kecelakaan itu. Minggu lalu,......Ibuku meninggal." Luke kembali menangis.
Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan
terbata-bata "Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua
orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama
melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan
mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan
mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang
berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu
mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis.
Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya
sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang
pelatih, tetapi sebagai seorang anak.....
Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal
ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun
berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun
ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............Luke baru saja kehilangan
seorang Ibu yang begitu mencintainya........
Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat
itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya,
membahagiakan mereka,membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk
mereka.Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal
seumur hidupnya...............


sumber : http://iniunic.blogspot.com/2013/01/renunganyang-terbaik.html#ixzz2JR3TljS0

Hidup ini Sangat Berharga, Jalanilah Dengan Penuh Hati-hati


Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan sdh menyala kuning.
Jack sgr menekan pedal gas kendaraannya... Jack terus melaju.. Priit! seorng polisi memintanya berhenti.. ia melihat siapa polisi itu.. yaitu Bob, temannya semasa SMA dulu... legalah Jack.

"Hey Bob..... Duh, sprtinya sy kena tilang nih? Sy memang agak buru2. Istri sy sedang menunggu di rumah, hr ini Ia ulang tahun.. dan anak2 sdh menyiapkan sgl sesuatunya.

Tentu aku tdk boleh terlambat, dong."
"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."

Dgn ketus Jack menyerahkan SIM lalu menutup kaca jendelanya. Bob terlihat menulis surat tilang dan stlh agak lama, Bob kembali & mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dgn penuh kecewa.

Dibukanya kaca jendela itu sedikit.. cukup untuk memasukkan surat tilang & Bob kembali ke posnya..
Jack mengambil surat tilang, tapi, ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota..

Nota apa ini? Buru2 Jack membuka dan membaca nota yg berisi tulisan tangan Bob..

"Halo Jack, Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorg anak perempuan. Sayang, Ia sdh meninggal tertabrak pengemudi yg ngebut menerobos lampu merah, pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan..l
Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi..

Sedangkan anak kami satu2nya sdh tiada.. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dpt kami peluk..

Doakan agar permohonan kami terkabulkan..

Berhati-hatilah.. dari Bob"

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob, tapi Bob sdh meninggalkan posnya..

Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dgn hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

Renungan: Tak selamanya pengertian kita hrs sama dgn pengertian orang lain.. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita.. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dgn penuh hati-hati 

Bagaimana Mengisi Hidup Ini ??


Jika Anda termasuk orang yang suka bekerja siang dan malam sampai-sampai tidak ada waktu untuk keluarga maka sebaiknya Anda baca kisah dibawah ini!!


Dulu kala ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda & menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya.

Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya & melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Dia melaju & terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin.

Ketika lapar & letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya & dia menjadi begitu kelelahan & hampir mati.

Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat & aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri."

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa & kebanggaan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga & kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan & juga kehidupan rohani & ibadah kita. Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok.

Jadi.....bekerjalah dengan giat untuk mencari harta tetapi jangan lupa untuk berbagi dengan keluarga dan menikmati hidup yang indah ini, karena setelah mati kita tidak perlu harta dan materi, yang mengantar kita ke Alam TUHAN hanyalah doa, bukan harta !!!!

Senin, 28 Januari 2013

Kisah Cinta Pria Miskin dan Wanita Kaya

Renungkanlah kisah cinta pria miskin dan wanita kaya ini. Kita tidak bisa menyelami semuanya untuk mengetahui makna cinta yang sebenarnya. Kita tidak pernah bisa tau bagaimana masa depan akan merubah seseorang. Setiap hidup, ada garis takdir yang terus berjalan,seiring nafas kita bekerja. Setiap manusia tidak hidup dari sesuatu yang tidak bertujuan. Kisah renungan yang sangat bagus ini bisa dibaca untuk menambah motivasi dan inspirasi serta perenungan.

UnikBaca.Blogspot.com

Seorang Pemuda miskin mencintai seorang gadis kaya. Suatu hari Pemuda itu nembak si gadis.

Gadis itu berkata, "Dengar ya, gaji bulanan Anda sama dengan pengeluaran harianku..!

Haruskah aku pacaran dengan Anda? Aku tidak akan pernah mencintai Anda. Jadi, lupakan diriku dan pacaran dengan orang lain yang setingkat dengan Anda"

Tapi entah kenapa si Pemuda tidak bisa melupakannya begitu saja.

10 tahun kemudian, mereka bertemu disebuah pusat perbelanjaan.

Wanita itu berkata, "Hei Kamu!! Apa kabar?

Sekarang aku sudah menikah. Apakah kamu tahu, berapa gaji suamiku ? Rp.20 juta perbulan! Dapatkah kamu bayangkan ? Dia juga sangat cerdas".

Mata Pemuda itu berlinang air mata mendengar kata-kata wanita itu, Beberapa menit kemudian suami wanita itu datang. Sebelum wanita itu bisa mengatakan sesuatu,

Suaminya berkata :"Pak...?! Saya terkejut melihat Anda disini. Kenalkan istri saya."

Lalu dia berkata kepada istrinya, "Kenalkan Bossku, Boss masih lajang lho..

Dia mencintai seorang gadis tapi gadis itu menolaknya. Itu sebabnya dia masih belum menikah. Sial sekali gadis itu.. Bukankah sekarang tidak ada lagi orang yang mencintai seperti itu?. "

Wanita itu merasa terkejut dan malu sehingga tidak berani melihat kedalam mata si Pemuda.

Kadang orang yang kita sakiti dan kita hina jauh akan lebih sukses dari pada yang kita bayangkan, Setelah semua terjadi timbulah sebuah penyesalan dari dirinya. Kadang orang yang di hina akan memakai hinaannya untuk mengapai sebuah kesuksesan. Ini hanya sebagian cerita kehidupan nyata, Bukan harta yang akan membuat kita bahagia, tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.


Sumber: http://unikbaca.blogspot.com/2012/12/kisah-cinta-pria-miskin-dan-wanita-kaya.html

Selasa, 22 Januari 2013

Renungan Kala Anda Sudah Tua



1. Setiap hari yang telah anda lalui itu berarti sisa hidup ini semakin pendek. Yang bisa kita makan, makanlah dengan   bijak . Yang bisa kita pakai, Pakailah apapun sesuai kebutuhan. Karena itulah kehidupan orang di masa tua.

2. Uang bukanlah segala - galanya. Uang memang serba bisa, dengan tidak ada uang maka anda tidak bisa banyak berbuat. Maka Janganlah selalu "mata duitan", janganlah terlalu hitungan dengan uang. Uang tidak bisa dibawa mati. Waktu Lahir kitapun tidak bawa apa - apa, matipun akan sama. Orang bijak adalah orang bila bisa cari uang, juga harus bisa mempergunakan uang yang dihasilkannya. Jadilah anda "majikan" dari uang anda , jangan sebaiknya anda malah menjadi "budak" dari uang anda .

3. Bila sehari berlalu dalam hidup anda, maka itu berarti umur anda berkurang sehari. Bila kita lewati hari ini dengan bahagia, maka anggap saja kita sudah beruntung.

4. Waktu cepat berlalu. Hidup itu singkat dan seringkali harus dilalui dalam kesusahan baik itu dalam keadaan sehat apalagi kalau sakit. Dalam sekejap kita akan memasuki masa tua. Bila kita selalu membandingkan hidup kita selalu "ke atas" maka kita akan selalu merasa kurang, maka bandingkan hidupmu "ke bawah" agar kita selalu merasa lebih beruntung dan selalu Bersyukur . Bila kita bisa mensyukuri apa yang kita punya, kita pasti akan bisa merasa bahagia.

5. Harta kekayaan, kedudukan, kehormatan hanyalah sementara waktu kita miliki didunia. Yang terbaik dan terpenting adalah kita bisa berperilaku baik, serta bisa membantu orang lain, janganlah berbuat hal - hal tercela. Yang terpenting merawat diri agar selalu sehat, karena hakekatnya pada masa tua KESEHATAN itu adalah KEKAYAAN kita.

6. Kasih orang-tua kepada anaknya itu tidak ada batasnya, tapi kasih anak terhadap orang-tua ada batasnya. Bila Anak sakit, hati orang-tua serasa teriris. Tapi bila Orang-tua yg sakit anak-anak paling cuma nengok / ber-tanya - tanya. Bila Anak - anak memakai uang orang-tua nya itu dianggap sudah wajar dan seharusnya, tapi bila ada orang-tua memakai uang anak biasanya tidak akan bisa leluasa.

7. Rumah orang-tua biasanya juga berarti adalah rumah anak, tapi rumah anak belum tentu bisa jadi rumah orang-tua. Orang-tua selalu memberi tanpa pamrih dan biasanya senang bisa memberi kepada anak - anaknya. Tapi janganlah terlalu mengharap balasan dari anak biasanya anda akan pusing sendiri.


8. Bila anda tua dan anda sakit, anda akan mengharapkan siapa ? Anak - anak ? Bila sakit anda dalam waktu lama, jarang ada anak yang mau dan bisa merawat orang tuanya dengan tujuan untuk berbakti. Mengharapkan dari pasangan hidup anda ? pada saat itu untuk Ngurus diri sendiri saja sudah tidak bertenaga. Mengharapkan uang ? Yaah , itulah harapan terakhir anda , karena hanya dengan uang anda bisa bayar suster.

9. Maka pada masa tua anda harus selalu berolah-raga dan menikmati hidup anda tentunya dengan dukungan tabungan anda , tapi itupun tidak boleh terlalu berlebihan, Bila anda merasa umur anda sudah cukup maka makan pun jangan tak usah terlalu diet lagi , cukup vitamin dan makanlah makanan yg menurut anda enak dan tidak berbahaya dan mengganggu bagi kesehatan anda .

10. Nikmatilah masa tua dgn santai tapi biasanya anda akan kesepian karena hari-hari akan berlalu terasa lama sekali, biasanya anda hanya bisa menungu kedatangan para cucu yang dibawa oleh anak anda untuk berkunjung ketempat anda, itupun kalau dia sempat, tapi kalau anda terlalu sibuk dengan para cucu pun maka anda juga akan pusing sendiri.

Banyak orang yang pada ulang tahunnya mengharapkan diberi umur panjang tetapi banyak pula yang tidak pernah merencanakan usia tuanya, kalau diberi umur panjang terus mau diisi dengan ngapain..?
Maka rencanakan hidup anda sampai pada masa tua agar pada masa tua pun anda bisa mengisinya dengan baik .
Memang susah ya kalau sudah berusia tua , pernahkah semua itu terlintas dipikiran anda...

Sumber: http://strawberrycake777.blogspot.com/2012/08/renungan-kala-anda-sudah-tua.html

Saya Takut Hidup di Jakarta!



Benarkah Negeri ini bangsa yang ramah tamah? Dulu iya mungkin, tapi sekarang? Liat aja berita di TV, isinya cuma bentrok, rusuh, amuk dan tawuran. Saya kadang suka sengaja ga mau liat berita untuk beberapa waktu sebab enerji negatif dari berita kerusuhan selalu membuat saya depresi.

Saya jauh lebih suka nonton Kick Andy di Metro TV. Program ini memberi enerji positif sekaligus mengingatkan kita bahwa ternyata masih ada loh orang baik di negeri ini.  Acara seperti ini harusnya diperbanyak karena berfungsi sebagai balance terhadap berita-berita kisruh yang membuat kita muak dan capek hati ngedengernya.


Sayangnya, walau berenti ngeliat berita, hidup kita belum tentu menjadi lebih tenang. Ke mana pun kita pergi, kita harus waspada. Bukan sekali dua kali saya terjebak berjam-jam dalam kemacetan luar biasa gara-gara ada demo.


Pernah juga saya lagi asyik di kafe, tau-tau ada ormas islam menyerang dan menghancurkan isi kafe sambil berteriak-teriak, “Allahu Akbar!” Untunglah saya diam-diam berhasil menyelinap dan pergi dari tempat itu tanpa kurang suatu apapun.


Yang terakhir, saya kejebak di antara tawuran anak-anak SMA yang mengakibatkan mobil saya penyok-penyok akibat lemparan batu. Buset deh! Mana mobil saya ga diasuransi pula. Alhamdulillah sampe sekarang saya belum pernah ketemu sama gank motor….jangan sampe deh!


Dulu saya kira, masyarakat kita cuma sok jagoan kalo mereka lagi berkelompok, tapi ternyata pikiran saya salah. 


Ceritanya begini:


Peristiwa 1.

Setelah makan siang di restoran di bilangan Sudirman, saya jalan kaki pulang ke kantor bersama seorang temen sekantor. Kami memutuskan untuk jalan kaki karena selain tempatnya ga terlalu jauh, jam makan siang di Jalan Jenderal Sudirman selalu macetnya parah.

Nah, lagi asyik-asyiknya jalan sambil ngobrol ngalor ngidul, tiba-tba terdengar klakson motor kenceng banget di belakang kami. Karena merasa aman sudah berjalan di trotoar, kami ga ambil pusing dengan suara klakson itu. Sekonyong-konyong suara klakson dan gas ditekan sangat kenceng sudah berada beberapa senti di belakang kami.


“Wooi!!! Minggir! Mau mati lo?!!! teriak si pengendara motor.


Rupanya karena terlalu macet, banyak motor naik ke atas trotoar untuk mencari jalan. Karena ga merasa bersalah, kami pura-pura ga denger dan juga ga mau minggir. Begitu juga para pejalan kaki yang lain. Dan apa yang terjadi?


Brak! Pengendara motor itu tiba-tiba menghantamkan helmya ke punggung saya keras banget. Saya tentu saja marah bukan main dan menghampiri pengendara motor tersebut.


“Heh ngapain lo mukul gue?” bentak saya.


“Kenapa lo ga minggir? Lo mau mampus ya? Udah tau gue mau lewat.” Habis bekata begitu dia memasang posisi berantem dengan helm sebagai senjata.


“Eh Tong, ini trotoar. Lo udah salah kenapa malah lo yang marah?” Saya bales membentak.


“Lo kan liat jalanan macet. Ngalah dikit dong sama motor yang mau lewat.” Dia malah ngebalas lebih galak lagi.


“Hei Tong. Yang namanya trotoar itu buat pejalan kaki, sana lo balik lagi ke jalan.” sahut saya kesel banget.


“Lo mau jadi jagoan ya? Lo ga tau siapa gue ya?” Orang itu semakin murka dan mendorong tubuh saya, tapi kali ini saya udah siap. Saya ngeles ke samping lalu balas ngedorong badannya. Si pengendara motor terhuyung lalu menyerang lagi dengan helmnya. Dan ga lama kemudian terjadilah perkelahian di atara kami.


Beberapa orang dari kerumunan berusaha memisahkan kami. Dan ga lama kemudian ada polisi dateng dan turut membantu memisahkan kami. setelah suasana reda, polisi menanyakan penyebab perkelahian pada semua orang. Setelah itu dia menghampiri si pengendara motor.


“Kamu yang salah!” hardik Si Polisi, “Udah tau trotoar buat pejalan kaki, kamu bisa saya tilang tau?”


“Silakan kalo mau tilang tapi bapak juga harus menilang mereka semua.” kata Si Pengendara motor seraya menunjuk puluhan motor yang juga ada di atas trotoar.


Si Polisi keliatan kebingungan.


“Jangan main-main sama saya. saya ini pengacara!!” kata orang itu lagi menggeretak Si Polisi.


Lucunya bukannya menindak orang itu,  Si Polisi malah nyamperin saya, “Kamu yang salah. Kenapa kamu ga membiarkan orang lain lewat?”


Lah? Gimana sih ini polisi? Bukannya polisi yang bikin peraturan berlalu-lintas? Saya yang ga ngelanggar aturan kok ikut-ikutan disalahin?


“Loh bukannya Bapak yang bilang tadi kalo trotoar buat pejalan kaki?”


“Iya betul tapi kalo kamu ngalah sedikit, keributan ini tidak perlu terjadi. Jadi kamu yang menyebabkan keributan.” sahut polisi ini lagi.


Sontoloyo! Kalo penegakan hukum harus diselipin sama kompromi ya pantes aja hukum ga jalan. Pantes aja orang ga takut melanggar peraturan dan undang-undang.


Peristiwa 2.

Kali ini peristiwanya terjadi hari minggu. Saya mau berkunjung ke rumah temen saya di daerah Kebayoran Lama. Letaknya cukup mudah dicapai, ditambah hari minggu pula, jadinya perjalanan dapat ditempuh sangat cepat. Nah, ketika saya mau belok ke jalan satu arah, saya langsung belok tanpa menginjak rem.

Ciiiiit!!!!Astaghfirullah! Ampir aja saya nabrak mobil yang datang frontal ke arah saya. Gimana nih orang? Jalan satu arah kok dilabrak seenaknya? Dan yang lebih aneh lagi, dia ngelakson saya sambil tangannya mengibas-ngibas nyuruh saya minggir. Saya bales aja ngelakson sambil ngibas-ngibasin tangan juga nyuruh dia yang minggir. Karena sama-sama ngelakson, bisinglah daerah itu dengan klakson kami berdua.


Capek ngadu klakson, akhirnya saya ke luar dari mobil dan menghampiri mobil tersebut. Ternyata pengemudinya masih muda banget, usianya sekitar 25 tahun kira-kira. Orang itu juga ke luar dari mobilnya sambil menenteng stick softball. Ga tau deh buat apa, buat ngegetok kepala saya kali.


“Mas, jalan ini satu arah, kalo mau ke jalan besar, mundur dikit terus belok di jalan yang sebelah sana.” kata saya dengan suara halus.


“Jalan ini kan cukup buat dua mobil, lo kan bisa minggir dikit supaya gue lewat.” sahut orang itu dengan suara keras.


“Ngapain gue minggir? Ini kan jalan satu arah?” jawab saya ga mau kalah karena merasa benar.


“Eh, gue anak kampung sini. Lo mau minggir atau gue ancurin mobil lo! Minggir ga?!!!” katanya mengancam sambil mengayun-ayunkan stick softballnya.


“Oh silakan kalo mau ngancurin mobil.” tukas saya sambil mundur dan memberi jalan buat dia menghantam mobil saya.


Ngeliat sikap saya, anak itu semakin emosi. Dia terus memaki-maki dengan suara memekakan telinga, sementara saya cuma menatap matanya sambil menulikan telinga,


Saking kencengnya teriakan anak itu, penduduk sekitar pada ke luar rumah dan mencari tahu apa yang terjadi. Dan bener loh, ternyata dia orang sini, buktinya semua orang pada mengenal dia. Ngeliat banyak tetangganya dateng, orang bertongkat softball itu makin mendapat angin.


“Liat nih orang sekampung udah pada dateng. Lo mau minggir apa gue ancurin mobil lo?” katanya sambil melemparkan senyum kemenangan.


“Silakan ancurin.” kata saya mempersilakan orang itu.


“Anjing lo!!! OK mobil lo gue ancurin sekarang juga.” teriaknya sambil berlari dengan beringas menghampiri mobil saya. Stick softball diangkat tinggi siap menghantam.


“Tunggu…tunggu…tunggu..!!!” Kerumunan orang juga berlari dan mencegah perbuatannya.


Orang itu terus berteriak-teriak memaki saya, untungnya penduduk terus memegangi sehingga selamatlah mobil saya dari mara bahaya.


Suasana makin tegang, beberapa orang menghampiri dan meminta saya meminggirkan mobil agar anak itu bisa lewat. Ada yang caranya membujuk dengan suara manis, ada yang mengancam dan ada pula yang netral. Tapi saya ga bergeming. Saya bingung bukan main! Kenapa ga ada satupun orang yang nyuruh anak itu mundur? 


Kan saya ga salah? Kan jalan ini satu jalur, kenapa saya yang harus mengalah? aneh banget kan?


Ga lama kemudian, seorang ibu mendatangi saya, “Dik, boleh ga ibu minta tolong minggirin mobil kamu?”


“Ibu siapa?” tanya saya.


“Saya isteri ketua RT, saya ga mau ada keributan di kampung saya.”


“Saya juga ga mau bikin ribut kok Bu.”


“Nah, kalau memang begitu, boleh ga kamu minggirin sedikit mobilnya supaya anak itu bisa lewat?”


“Kenapa Ibu ga minta dia yang mundur? Kan jalan ini satu jalur?” jawab saya bersikukuh.


“Saya udah minta dia mundur tapi ga mau. Maklum anak muda kan emosian…”


“Jadi karena dia emosian, saya harus mengalah?” tanya saya dengan halus.


“Saya minta kamu mundur bukan karena dia emosian, tapi karena saya merasa kamu lebih tua dan tentunya juga lebih bijak.”


“Maaf Bu, saya belum punya alasan yang tepat buat mengalah. Jalan ini satu arah. Ibu tau kan?”


Si Ibu menghela napas panjang. Dia ga ngomong apa-apa lagi tapi juga ga pergi dari hadapan saya. Dia cuma merenung seperti orang lagi berpikir keras. Beberapa orang mencoba untuk membujuk anak itu tapi makhluk keras kepala itu tetap ga mau mundur.


“Sampai kapan kamu mau bertahan di sini? Kenapa masalah mudah kamu persulit sedemikian rupa?” Si Ibu menatap saya dengan tajam.


“Minggir sedikitlah Nak. Ibu minta tolong…” kata Bu RT lagi. Kalimatnya memelas tapi cara mengucapkannya tegas tanpa nada memohon.


Sekarang saya yang menghela napas panjang lalu berucap dengan lirih, “Baiklah, saya akan minggirin mobil saya. Maaf, saya udah nyusahin Ibu.”


“Terimakasih ya Nak. Ibu sangat menghargai…” sahut Si ibu.


Setelah minggirin mobil, anak itu lewat. Sebelum lewat, sempet-sempetnya dia berenti di samping mobil saya dan berteriak, “Kalo ketemu lagi, bukan cuma mobil, tapi elonya juga gue ancurin!”


Saya cuma tersenyum ewah lalu meninggalkan tempat itu.


Peristiwa 3

Kali ini yang dapet masalah bukan saya. Tapi saya ngeliat sendiri peristiwanya dari dekat. Saya baru pulang makan malam di Restoran Nasi Goreng Kemang sama seorang temen. Pulangnya saya berenti di lampu merah yang menghadap ke arah McDonald. Di paling depan ada beberapa motor yang keliatannya merupakan satu rombongan, lalu di belakangnya sebuah mobil APV warna hitam dan mobil saya tepat setelah APV tadi.

Ketika lampu hijau menyala, motor-motor yang ada di paling depan tidak juga beranjak. Kayaknya para pengendara itu terlalu asyik ngobrol satu sama lain. Setelah menunggu beberapa detik, supir APV jadi kurang sabaran dan langsung ngelakson berkali-kali. Dan apa yang tejadi?


Bukannya beranjak dari situ, para pengendara motor malah murka. Mereka menyetandard motornya di tengah jalan lalu sekitar 8 orang melepaskan helmnya. Selanjutnya terdengar suara Brak…bruk…brak…bruk!!!!


Seperti adegan di film-film Hollywood, rombongan anak muda itu menghantam mobil APV dengan ganas. Mobil malang itu penyok-penyok dan semua lampu depan dan belakang hancur berantakan. Pengemudinya ketakutan bukan main sehingga memutuskan untuk tetap tinggal di dalam mobil.


Puas menghancurkan mobil, semua anak muda itu kembali ke motornya dan meninggalkan tempat itu bagai jagoan di film-film koboy. Astaghfirullah!


Wahai Jakarta…ada apa denganmu? kenapa saya hampir ga mengenalimu lagi? Kenapa bangsa kita berubah drastis dari bangsa yang ramah tamah menjadi bangsa yang sangat pemarah?


Di negeri ini, setan pengadu domba mengintai di mana-mana. Ricuh di istana, kisruh di dalam dan di luar gedung DPR, tawuran di jalan-jalan, perang di Pilkada, perkelahian massal di lapangan sepakbola…hadoh!


Di mana kalian pernah merasa aman? Tiap bepergian ke luar rumah maut mengintai. Pesawat jatuh, kapal laut tenggelam, kereta api terguling, bis masuk jurang, perampokan di taxi, pemerkosaan di angkot. Bahkan jalan kaki di trotoar pun kita bisa mati diterjang mobil yang dikendarai pengemudi mabuk.


Negeri ini udah terlalu kacau. Saya kira perlu campur tangan Allah untuk memperbaiki negeri yang sudah amburadul ini.  Sejak semua peristiwa itu saya mencoba mendekatkan diri pada Allah. Saya jadi lebih sering ke mesjid, bukan cuma sholat jumat tapi juga waktu sholat yang lainnya.


Tiap berada di mesjid saya selalu berdoa agar bangsa kita menjadi lebih baik. Barangkali mesjid adalah satu-satunya tempat yang paling aman. Sepreman apapun seseorang, pastilah dia minimal akan bersikap baik di rumah Allah, begitulah pikiran saya.


Saya seneng banget  kalo para khatib pas sholat jumat juga membahas dan mengupas keadaan negeri yang udah mendekati chaos ini. Khutbah biasanya diakhiri dengan doa bersama. Bagus kan? Kalo berdoa ramai-ramai katanya akan lebih makbul. Insya Allah.


Nah saat itu saya sedang mendengarkan khutbah di mesjid Al Ikhlas di daerah Senopati, saya cukup antusias karena materinya cukup menarik. Pengetahuan khatib ini lumayan tinggi, analisanya cukup tajam bahkan dia juga menawarkan solusi-solusi agar negeri ini aman tenteram.


Sayangnya 3 orang yang ada di samping kanan berisik banget. Mereka ngobrol dengan suara keras. Karena sudah sangat terganggu saya mencoba menegur mereka.


“Maap Mas-mas, boleh ga suaranya dikecilin? Saya lagi denger khutbah nih. Maap ya sebelumnya.”


Ketiganya menatap saya dengan pandangan aneh tapi mereka mau juga memelankan suaranya. Alhamdulillah. 


Saya pun larut dalam khutbah dan melupakan ketiga orang itu sampai selesai sholat jumat.


Dalam perjalanan ke mobil, tiba-tiba ketiga orang tadi menghampiri saya, “Heh Mas, tunggu sebentar.”


“Iya kenapa ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya saya dengan suara ramah.


“Lo yang nyuruh kita diem di mesjid tadi kan?”


“Bukan nyuruh tapi mengimbau. Lagipula menurut ajaran islam, pas khutbah memang ga boleh ngomong.” kata saya.


“Eh nyet! Itu kan bukan mesjid lo? Gue mau ngomong apa kagak kan itu urusan gue? Lo mau berantem?” Tiba-tiba salah seorang membentak.


“Gue kemari mau sholat, bukan berantem.” sahut saya mulai kesel.


“Oh mau sholat? Kalo gue mah mau berantem,” Abis ngomong gitu, salah seorang memukul, tapi saya udah siap dan menghindar.


Ngeliat rekannya menyerang, dua yang lain tiba-tiba juga ikut menerjang. Perkelahian satu lawan tiga tentu saja membuat saya kewalahan, tapi untung tukang parkir mesjid langsung membantu. Bertahun-tahun, saya selalu sholat di mesjid ini dan selalu parkir di ujung taman sehingga saya udah cukup berteman dengan tukang parkir itu.


Mendapat tenaga bantuan membuat saya ga terlalu terdesak. Dan yang lebih mujur lagi, ngeliat tukang parkir ribut, temen-temen sesama tukang parkir langsung solider dan membantu menghajar ketiga anak tadi.


Alhamdulillah…jemaah jumat yang masih banyak keluar dari mesjid menyelamatkan ketiga pecundang tersebut. Mereka digelandang ke mobilnya dan dipaksa meninggalkan tempat itu.


Saya masih bengong dan ga habis pikir. Masya Allah! Apa yang salah dengan negeri ini? Masa abis sholat ngajak orang berantem sih? Di mana-mana kisruh, di mana-mana rusuh, di mana-mana tawuran. Bahkan rumah Tuhan pun ternyata tidak terasa aman. Astaghfirullah… Kalo keadaan begini terus-menerus, terus terang; Saya takut hidup di Jakarta.

-----------

Postingan Saya Takut Hidup di Jakarta! ini bersumber dari http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/27/saya-takut-hidup-di-jakarta/

Jangan lupa juga difollow twitternya @budiman_hakim semoga bermanfaat :)